Background Image

TRADISI MEKOTEK DI MENGWI BADUNG

photo by : @riskidarmawan

Tradisi Mekotek  juga dengan Gerebeg Mekotek, merupakan tradisi yang dilakukan di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali dalam kalender Hindu atau setiap 210 hari sekali, tepatnya saat perayaan hari raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan.

Tradisi Mekotek ini digelar dengan tujuan atau sebagai prosesi tolak Bala, melindungi dari serangan penyakit dan memohon keselamatan. Warisan turun temurun dari leluhur warga desa Munggu khususnya umat Hindu, prosesinya selalu rutin dilakukan secara turun-temurun oleh generasi penerusnya atau warga.

Pada awal tradisi ini digelar, dilakukan oleh warga untuk menyambut kedatangan para prajurit dari pasukan kerajaan Mengwi yang sekarang memiliki peninggalan pura kerajaan dinamakan pura Taman Ayun yang juga sebagai salah satu objek wisata di Bali. Sambutan warga yang dilakukan pada waktu itu karena kemenangan pasukan kerajaan Mengwi atas peperangan melawan kerajaan Blambangan yang berada di pulau Jawa. Dan pada akhirnya tradisi unik Mekotek ini digelar sampai sekarang. Tradisi Mekotek ini memakai sarana tongkat yang dipadukan menjadi satu dengan ujung yang mengkerucut menjadi formasi sebuah piramid, suara kayu-kayu yang berbenturan satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara tek…tek…tek sehingga dikenal dengan nama Mekotek. Sebelum prosesi digelar peserta wajib memakai pakaian adat madya dan berkumpul di Pura Dalem Munggu. Dimulai dengan melakukan persembahyangan di Pura Dalem setempat, kemudian mereka melakukan pawai dengan diiringi gamelan Beleganjur menuju sumber mata air di desa Munggu.

Prosesi ini diikuti hampir seluruh warga Munggu terutama kaum pria dengan usia diantara 12 – 60 tahun. Mereka terbagai dalam beberapa kelompok, setiap kelompoknya terdiri sekitar 50 orang, tongkat kayu yang mereka bawa diadu membentuk seperti sebuah piramid. Peserta prosesi Mekotek yang punya keberanian, bisa coba adu nyali naik ke puncak kumpulan kayu tersebut, siap memberi komando atau penyemangat bagi kelompoknya, hal sama dilakukan juga oleh kelompok lainnya. Para komando memberikan perintah untuk menabrak dari kelompok lainnya.

Perayaan Mekotek di Munggu, pada awalnya menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar tidak ada yang terluka, maka pada tahun 1948 digantilah menggunakan tongkat dari kayu Pulet, yang kulitnya telah dikupas dan menjadi halus dengan panjang 2 – 3.5 meter, sedangkan tombak aslinya disimpan di pura Desa setempat.

No Comments

Post a Comment