Background Image

Antisipasi Kemarau, BWS Bali Penida Keruk Sedimen Bendungan Benel untuk Jaga Pasokan Air

JEMBRANA – Ancaman kekeringan mulai diantisipasi seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim kemarau di Provinsi Bali akan terjadi pada Agustus 2026.

Potensi penurunan curah hujan akibat fenomena El Niño diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Jembrana. Untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida telah melakukan sejumlah langkah, salah satunya melalui pengerukan sedimentasi di Bendungan Benel.

Pengerukan sedimentasi dilakukan di daerah genangan Bendungan Benel sebagai bagian dari pemeliharaan infrastruktur sumber daya air menghadapi musim kemarau. Endapan sedimen yang terus bertambah selama bertahun-tahun dapat mengurangi kapasitas tampungan bendungan sehingga memengaruhi kemampuan bendungan dalam menyimpan air.

Dalam pekerjaan tersebut, BWS Bali Penida menargetkan pengerukan sedimen sebanyak 19.000 meter kubik di area genangan bendungan dan 1.800 meter kubik di cekdam. Kegiatan ini bertujuan mengembalikan kapasitas tampungan Bendungan Benel agar dapat berfungsi secara optimal sebagai penyimpan cadangan air.

Bendungan Benel yang berlokasi di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana memiliki kapasitas tampungan sekitar 1,64 juta meter kubik. Infrastruktur ini berperan penting dalam melayani daerah irigasi seluas 1.047 hektare sekaligus menyediakan air baku sebesar 64 liter per detik bagi masyarakat.

Dengan kapasitas tampungan yang tetap terjaga, bendungan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air irigasi selama musim kemarau sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan. Selain itu, pasokan air baku bagi masyarakat juga dapat dipertahankan di tengah potensi penurunan curah hujan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BWS Bali Penida dalam memperkuat ketahanan air melalui pemeliharaan dan optimalisasi infrastruktur sumber daya air. Selain menjaga fungsi bendungan, pengerukan sedimentasi juga diharapkan dapat mengurangi risiko dampak kekeringan yang berpotensi terjadi selama musim kemarau 2026.

Melalui upaya tersebut, BWS Bali Penida berkomitmen memastikan infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi optimal sehingga mampu mendukung ketahanan air dan ketahanan pangan, khususnya di Kabupaten Jembrana dan Provinsi Bali secara umum.

No Comments

Post a Comment